Sabtu, 11 April 2009

PENINGKATKAN PERANAN PENDIDIKAN SENI DALAM RANGKA MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA

I. Pendahuluan
Dalam menghadapi era globalisasi industri dan perdagangan bebas yang akan datang, berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia berbenah diri mempersiapkan sumber daya manusianya. Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menjadi perhatian utama dalam upaya pengembangan dan penguasaannya di masa datang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan perubahan terhadap kurikulum pendidikan dasar dan menengah secara nasional serta memberikan keleluasaan kepada daerah-daerah untuk menerapkannya sesuai dengan kondisi daerah setempat, yaitu dengan memanfaatkan kurikulum muatan lokal.
Indonesia adalah salah satu negara agraris di dunia. Kondisi geografisnya yang terdiri dari dataran tinggi (pegunungan) dan dataran rendah (pesisir) menghasilkan pemandangan yang sangat menakjubkan yang apabila diolah secara profesional dapat menjadi objek wisata yang indah. Data-data tersebut di atas memberikan panduan kepada kita dalam pembentukan kurikulum muatan lokal berikut arah dan sasaran pendidikan yang akan dicapai.
Secara nasional, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prioritas utama dalam kurikulum, sehingga mata pelajaran Matematika dan IPA mendapat perhatian dan porsi yang khusus dalam kurikulum dengan meminggirkan beberapa mata pelajaran lain yang dianggap kurang bermanfaat bagi perkembangan zaman. Salah satu mata pelajaran yang terpinggirkan tersebut adalah pendidikan seni khususnya seni budaya daerah.
Di dalam pertemuan-pertemuan ilmiah dan makalah-makalah para pakar, selalu disebutkan secara berangkai kata-kata ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Tetapi mengapa yang menjadi prioritas pembangunan pendidikan hanya pada ilmu pengetahuan dan teknologi saja ? Dari mana unsur seni akan diterima oleh peserta didik ?
Sebenarnya peran pendidikan seni bagi seorang peserta didik adalah sangat penting. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu diiringi dengan jiwa yang memiliki nilai-nilai seni sehingga karya cipta yang dihasilkan memiliki nilai-nilai estetis. Bahkan beberapa ahli pernah mengemukakan bahwa tanpa seni, ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi hampa.

II. Permasalahan
Berdasarkan uraian pada pendahuluan di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu “Bagaimanakah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan peranan Pendidikan Seni dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa?”

III. Pembahasan
Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka sudah sepantasnyalah pendidikan dasar dan menengah dapat mempersiapkan manusia Indonesia yang kompetitif untuk menghadapi era globalisasi dan era perdagangan bebas dunia. Pariwisata, seni dan budaya yang dikatakan mampu memberikan kontribusi kepada daerah dalam bentuk pendapatan asli daerah (PAD) haruslah ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai dari putra-putra daerah ini. Oleh karena itu, untuk dapat lebih terarah dan mempersempit masalah, disini penulis tertarik untuk membahas kurikulum muatan lokal yang meminggirkan dan menutup mata terhadap pendidikan seni dan budaya daerah.
Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah pendidikan seni mendapatkan porsi yang lebih dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Selain ada mata pelajaran Seni Budaya yang sifatnya umum, penempatan pendidikan seni budaya daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal adalah terobosan yang amat baik guna menunjang program pembangunan dan pendidikan daerah.
Berdasarkan pantauan penulis, banyak peserta didik yang menambah dan menimba ilmu pengetahuan di bidang seni di luar sekolah, seperti : sanggar-sanggar tari, sanggar-sanggar musik, bina vokalia, rental band dan sebagainya. Hal ini sebenarnya sudah cukup bagi semua pihak untuk melihat sebuah fakta peserta didik telah menganggap bahwa pendidikan dan pengembangan nilai-nilai seni yang diperolehnya di sekolah sudah tidak memadai untuk pengembangan kemampuan dirinya di bidang seni dan menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai seni yang ada di dalam dirinya.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis memberikan saran kepada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia untuk dapat memberikan porsi yang lebih kepada mata pelajaran seni khususnya seni daerah masuk dalam bentuk mata pelajaran muatan lokal, karena sekolah memiliki wewenang untuk itu. Dan diharapkan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan memberikan dukungan positif bukan memberikan respon tidak menentu sambil menunggu tanggapan atasan seperti yang sering terjadi selama ini.
Kendala kekurangan sumber daya manusia dalam hal ini guru (tenaga pengajar) sudah tidak dapat dijadikan alasan, karena saat ini sangat banyak lulusan Jurusan Pendidikan Sendratasik dan STSI yang tersebar hampir di seluruh Indonesia yang memiliki ilmu dan skill yang memadai untuk itu. Sekarang hanya tinggal kemauan dari pihak sekolah untuk menyelenggarakannya.
Dampak positif dari penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni budaya daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal sangat banyak yaitu :
1. Dengan menempatkan mata pelajaran ini sebagai mata pelajaran muatan lokal, maka pemanfaatan sekolah sebagai media pengembangan jiwa seni peserta didik menjadi lebih optimal.
2. Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan instansi terkait dapat memasukkan program-program daerah (bidang pariwisata, seni dan budaya) sebagai materi pelajaran, seperti : kesenian tradisional, objek-objek wisata budaya dan wisata alam dan sebagainya.
3. Dengan penekanan dalam hal praktek diharapkan setiap sekolah memiliki kelompok-kelompok seni yang siap terjun di berbagai even yang diadakan, baik oleh sekolah itu sendiri maupun even antar sekolah dan umum. Kelompok-kelompok tersebut, seperti : tim paduan suara, tim tari, tim band sekolah, tim drama dan teater tradisional sekolah (randai), tim musik tradisi, tim drum band, dan lain-lain.
4. Memberikan peluang kerja bagi para calon tenaga pengajar (guru) bidang seni yang berpotensi.
Tanpa semua itu, jangan berharap dan berbangga akan menghasilkan dan memiliki peserta didik yang memiliki kemampuan seni yang handal. Akan sangat ironis apabila suatu sekolah membangga-banggakan bahwa siswanya menjadi juara pada salah satu lomba seni, tetapi siswa tersebut bisa jadi juara bukan karena di bina di sekolah itu melainkan oleh sanggar seni yang diikutinya.
Untuk menghindari semua itu, maka pembinaan sejak dini di sekolah sudah seharusnya dilakukan. Walaupun tidak mempersiapkan peserta didik menjadi seseorang yang handal dalam bidang seni, minimal sekolah dapat memberikan landasan berpijak yang memadai kepada peserta didik apabila di kemudian hari bidang tersebut ditekuni sebagai jalan hidupnya.

IV. Penutup
Dalam menghadapi era globalisasi industri dan perdagangan bebas yang akan datang, berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia berbenah diri mempersiapkan sumber daya manusianya. Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menjadi perhatian utama dalam upaya pengembangan dan penguasaannya di masa datang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan perubahan terhadap kurikulum pendidikan dasar dan menengah secara Nasional serta memberikan keleluasaan kepada daerah-daerah untuk menerapkannya sesuai dengan kondisi daerah setempat, yaitu dengan memanfaatkan kurikulum muatan lokal.
Pariwisata, seni dan budaya yang dikatakan mampu memberikan kontribusi kepada daerah dalam bentuk pendapatan asli daerah (PAD) haruslah ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai dari putra-putra daerah ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah pendidikan seni mendapatkan porsi yang lebih dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Penempatan pendidikan seni budaya daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal adalah terobosan yang amat baik guna menunjang program pembangunan dan pendidikan daerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar